Senin, 25 Februari 2008

perang itu jijik kawan (save your campus)


"Tak... tik... tuk..." seperti itulah terdengar riuh gema sepatu- septu yang terpantul di tiap kanvas tembok- tembok penuh coretan para pelukis liar kampus sejk pertama kali langkahkan kaki yang tak jelas arahnya ini menuju halmn kampus biru yang menurutku sangt ajib tahun ini. bunyin ini aku gelari dengan sebutan akrab "laas serdadu kampus".

"Dor..dor...dor..." setelah kurang lebih 10 menit lamanya mengistirahtkan pntat yang udah dari tadi pagi hanya mondar- mandir tunggu giliran, akhirnya menciut pula ke sela- sela telinga yang udah seminggu belum dibersihin suara- suara yang cukup mengerikan bak letusan- letusan senapan yang siap melumpuhkan seluruh tubuh ini hingga tak berdaya, yng juga kenyang dengan untaian kata- kata yang tak segan- segan memicu dan mengobarkan semangat perselisihan dan kekacuan ditiap sudut kampus kapan pun, yang juga terluapi omong kosong penuh kesombongan diri bahwa mereka ternyata mampu mengangkat senjta melwn siapun yang membuat mereka sakit dengan kepalan tinju andalan semangat premanisme yang dimiliki hari ini, yang tentunya bersama sekutu- sekutunya yang juga cukup rela mati demi segelintir kasus sepele yang ia juga tidak pahami sama sekali. Tipe manusia ini pas dengan nama band punrock Makassar yang sudah lama vakum "Battlefront" yang artinya garis depan pertempuran, tapi kontrasnya mereka itu sedikit jauh lebih konyol. Kawan pada bgian cerita ini, terkesan lebih akrab jika aku menyebutnya ' Letusan Senjata Serdadu Kampus".

Beberapa bulan yang lalu seiring dengan kabar matinya hubungan cintaku dengan seorang gadis brondong yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA, terdengar pula kabar- kabar menjijikkan yang persis sama dengan apa yang aku jabarkan pada paragraf sebelumnya, mulai dari perkelahian antar mahasiswa sekampus, perselisihan mahasiswa antar kampus yang berakhir "bleeding" dan cukup mengerikan adalah berita yang sempat terlangsir dalam sebuah media koran di Makassar yang mana ada salah- satu dosen di sebuah universitas swasta, yang tak perlu aku sebutkan namanya, yang menjadi korban dalam suatu insiden perselisihan dan juga korban penikama seorang mahasiswa yang Alhamdulillah Allah masih menyempatkan satu nyawa lagi buatnya kawan.

Berselang waktu kemudian, kejdian serupa terjadi saat matahari belum menampakkan diri bersama cahayanya pagi itu, dimana ketika aku baru tiba di kampus tuk mengikuti kuliah pagi seperti biasa. Namun ini beda, bagian ini hanyalah sebatas bunyian laras dan letusan senjata serdadu kampus saja. Saat mendengar ungkapan- ungkapan yang 'full of rage and revenge' yang munclat- munclat keluar dari mulutnya, aku tiba- tiba tanpa berkedip dan sejenak tak bisa mengatur nafas berfikir dan heran, sambil bertanya- tanya pada hati kecilku " inikah mahasiswa hari ini, yang konon orang bilang bahwa mereka adalah manusia kaum intelek? ... kok hari ini nampak seperti binatang buas yang siap melumat setiap mangsanya...?" ah.. entahlah?

Menyimpan sedikit dari gombalan di atas, bahwa Albert Einstein semasa hidupnya gat membenci yang namanya sistem militerisme, yang dimana manusia rela berbaris dalam formasi berbanjar, kepahlawanan karena perintah atasan, kekersan tak masuk akal, dan semua omong kosong yang mengatas- namakan patriotisme. Otak besar yang dianugerahkan kepadanya adalah suatu kesalahan karena yang diperlukan hanyalah tulang belakang. Baginya perang adalah suatu hal yang menjijikkan dan jahat. ia lebih suka dihajar habis- habisan dari pada harus terlibat di dalamnya. it's great!


"coretan ini kudedikasikan buat setan- setan yang selalu berkeliaran di kampus yang tak pernah lelah menakut- nakuti teman- temanku..."